45 Tanaman Penghasil Minyak Atsiri (Essential Oil)

Minyak atsiri dikenal dengan nama minyak atsiri, minyak esensial, minyak ethereal, aetherolea, atau dikenal sebagai minyak tanaman dari mana mereka diekstraksi, seperti minyak cengkeh. Minyak atsiri adalah sebuah senyawa yang mudah menguap (volatile) pada suhu normal. Senyawa kimia ini berasal dari tumbuhan.

Indonesia dikenal dengan spesies tanamannya yang beraneka ragam, dari tanaman tersebut diantaranya merupakan tanaman penghasil minyak atisiri...apa saja tanaman yang menghasilkan minyak atsiri?

Minyak atsiri merupakan sisa-sisa dari proses metabolisme senyawa tumbuhan yang terbentuk karena reaksi antara berbagai senyawa kimia dan air.

Baca Juga : Minyak Atsiri: Cara Kerja, Jenis-Jenis, Manfaat dan Efek Samping

Tanaman penghasil minyak atsiri ini diperkirakan berjumlah 150 - 200 spesies tumbuhan yang termasuk famili Compositae, Labiateae, Lauraceae, Myrtaceae, Pinaceae dan Umbelliferaceae.

Minyak atsiri dapat ditemukan dari setiap bagian tumbuhan yaitu dari daun, batang, kulit, bunga, buah, biji dan akar atau rhizome. Minyak atsiri dari tumbuhan dapat berasal dari batang misalnya kulit cendana, masoi. Dari daun misalnya cengkeh, sereh wangi, nilam. Dari akar misalnya akar wangi. Dari bunga misalnya kenanga, cengkeh dan dari buah misalnya pala.

Minyak atsiri dalam industri digunakan dan diproduksi dalam parfum, kosmetik, sabun,obat-obatan, untuk menambahkan aroma pada dupa dan produk pembersih rumah tangga. dalam bahan pangan digunakan untuk pencampur rokok kretek.

Minyak atsiri sering digunakan untuk aromaterapi, suatu bentuk pengobatan alternatif di mana efek penyembuhan dianggap berasal dari senyawa aromatik. Aromaterapi mungkin berguna untuk menginduksi relaksasi, tetapi tidak ada bukti yang cukup bahwa minyak esensial dapat secara efektif mengobati kondisi apa pun.

Penggunaan minyak atsiri yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan termasuk reaksi alergi dan iritasi kulit, dan anak-anak mungkin sangat rentan terhadap efek racun dari penggunaan yang tidak tepat.

Pada umumnya minyak atsiri diekstraksi dengan distilasi, seringkali dengan menggunakan uap. Proses lain termasuk ekspresi, ekstraksi pelarut, sfumatura, ekstraksi minyak absolut, penyadapan resin, penyisipan lilin, dan pengepresan dingin.

Tanaman Penghasil Minyak Atsiri (Essential Oil)

1. Akar Wangi (Chrysopogon zizanioides
(L.) )


akar wangi

Akar wangi (Chrysopogon zizanioides (L.) ) termasuk famili Graminae atau rumput-rumputan. Memiliki aroma yang sangat wangi, tumbuh merumpun lebat, akar berbentuk serabut bercabang banyak berwarna merah tua. Waktu penanaman tanaman akar wangi setiap saat sepanjang tahun, namun yang terbaik adalah di awal musim hujan.

Tanaman akar wangi adalah tanaman penghasil minyak akar wangi (vitiver oil) yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan ketinggian antara 1000 – 2000 meter dari permukaan laut dengan produksi diperkirakan 15 – 30 ton per tahun.

Kadar minyak dalam akar wangi sekitar 1 – 1,5 % sehingga jumlah prduksi minyak akar wangi 150 kg – 300 kg per hektar per tahunnya. Perlu untuk diketahui bahwa jika ditinjau dari segi sosial ekonomi, agronomi dan teknis, maka Tanaman akar wangi mudah diusahakan oleh masyarakat sekitar, dengan umur panen 9 – 12 bulan.

2. Cengkeh (Syzygium aromaticum)



Cengkeh

Cengkeh (Syzygium aromaticum) adalah kuncup bunga aromatik dari pohon di keluarga Myrtaceae. Cengkeh adalah tanaman asli Kepulauan Maluku di Indonesia , dan umumnya digunakan sebagai bumbu makanan.

Cengkeh (Syzygium aromaticum) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memliki batang pohon besar dan berkayu keras. Tinggi tanaman cengkeh dapat mencapai 15 – 20 meter dan dapat bertahan sampai umur ratusan tahun.

Cengkeh adalah salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang dapat diperoleh dari seluruh bagian tanamannya terutama dari daun gugur, daun segar dan bunga.

Kadar minyak dari daun berkisar antara 1 persen, sedangkan dalam bunga 15 persen - 16 persen. Selain bunga kering sebagai hasil utama minyak atsiri, daun gugur juga dapat dimanfaatkan untuk dijadikan minyak dengan cara penyulingan.

3. Nilam (Pogostemon cablin Benth.)


nilam

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah
spesies tanaman dari keluarga Lamiaceae. Tanaman nilam tumbuh sebagai ramuan lebat , dengan batang tegak mencapai sekitar 75 sentimeter (2,5 kaki) tingginya dan berbunga kecil, bunga putih pucat merah muda.

Tanaman nilam dikenal dengan berbagai nama di beberapa daerah, seperti : dilem sebutan di Sumatera-Jawa), rei sebutan di Sumbar, pisak sebutan di Alor, ungapa sebutan di timor. Dalam perdagangan internasional tanaman nilam dkenal sebagai pathcouly.

Nilam adalah tanaman penghasil minyak nilam yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Tanaman nilam tumbuh dengan baik pada ketinggian tanah antara 0 – 1000 meter dengan produksi 10 – 20 ton daun layu per hektar per tahun dengan periode 3 – 4 persen per tahun. Tanaman nilam perlu diperbaharui setiap 5 – 7 tahun sekali. Minyak yang dihasilkan berkisar antara 100 – 200 kg minyak per hektar per tahunnya.

Minyak nilam diproduksi dengan cara penyulingan, baik dengan uap (kukus) dan uap bertekanan tinggi. Komponen utama dalam minyak nilam adalah PA yng kadarnya berkisr 30 persen. Komponen PA yang biasanya dijadikan dasar penentuan mutu minyak nilam yang diinginkan pembeli selain minyak bebas cemaran besi (Fe). Oleh karena itu penyulingan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan ketel berbahan bebas karat atau stainless steel bukan dari besi atau baja yang bersifat korosif.

4. Pala (Mysrictica fragans)


Pala

Pala (Myristica fragrans) adalah tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Mengandung rempah-rempah yang tinggi, Buah dan biji pala telah menjadi komoditi perdagangan yang penting sejak masa Romawi.

Buah pala terdiri dari 4 bagian yaitu : biji, daging, fuli, dan tempurung. Biji pala dapat dimanfaatkan sebagai rempah-rempah dan minyaknya diperoleh melalui penyulingan. Selain untuk rempah-rempah biji pala juga dapat dimanfaatkan untuk pengobatan dan kosmetika. Biji pala dapat menghasilkan rata-rata 12 persen minyak atsiri dan dari fuli berkisar antara 7-18 persen.

5. Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.)


Serai wangi

Cymbopogon nardus lebih dikenal dengan nama sereh atau serai wangi atau citronella grass adalah jenis rumput-rumputan dari ordo Graminales yang khas dari daerah-daerah tropis Asia.

Varietas serai wangi (sereh wangi) yang paling dikenal adalah varitas Mahapegiri atau java citronella oil dan varitas Lenabatu atau cylon citronella oil. Varitas Mahapegiri mampu memberikan mutu serta rendemen minyak yang lebih baik dbandingkan varitas Lenabatu.

Tanaman serai wangi merupakan tanaman penghasil minyak serai wangi. Minyaknya dapat diperoleh dari bagian daun dengan rendemen 0,8 – 1 persen dari daun basah.

Tanaman serai wangi tumbuh baik dari dataran rendah sampai 1000 meter dari permukaan laut, tetapi daerah optimum adalah 250 meter di atas permukaan laut.

Pertumbuhan serai wangi kurang baik pada tanah yang berat (liat) dan tanah berkapur. Disamping itu keadaan air tanah yang dekat ke permukaan tanah tidak dikehendaki, sehingga perlu adanya drainase yang baik, berupa parit–parit atau saluran pembuangan air.

Produksi tanaman cengkeh berkisar antara 15 – 20 ton per hektar pertahun dengan kadar minyak 0,8 – 1 persen dan pemanenan dapat dimulai setelah berumur 6 bulan dan periode panen selanjutnya berkisar antara 70 – 75 hari sekali dalam musim hujan dan tiap 80 – 90 hari pada musim kemarau.

6. Jahe (Zingiber officinale)


jahe

Jahe ( Zingiber officinale ) adalah tanaman berbunga yang rimpang yang berasal dari Pulau Asia Tenggara, akar jahe atau jahe, banyak digunakan sebagai bumbu dan obat tradisional.

Kondisi lingkungan dimana tanaman jahe dapat tumbuh dengan baik pada curah hujan sekitar 2500-4000 mm per tahun, pada suhu 25-35 oC, dan dengan kelembaban udara yang sedang dan tinggi. Tanaman jahe menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan humus dan berdrainase baik, dapat juga tumbuh di tanah latosol merah coklat dan tanah andosol.

Proses produksi minyak jahe dilakukan dengan penyulingan (melalui steam distillation atau water distillation) atau ekstraksi rimpang jahe yang sebelumnya telah dikeringkan dalam bentuk serpihan atau dibuat serbuk. Rendemen rata-rata minyak jahe adalah 1-3 persen (kering) tergantung jenis jahe serta penanganan dan efektifitas proses penyulingan. Ekstraksi minyak jahe dengan pelarut menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyulingan, karena selain minyak jahe (minyak atsiri), juga dihasilkan oleoresin. Oleoresin inilah yang membentuk rasa pedas pada jahe.

Komponen utama yang terkandung dalam minyak jahe adalah zingiberen, dan zingberol yang menyebabkan bau khas minyak jahe. Minyak jahe biasanya digunakan sebagai bahan baku minuman ringan (ginger ale), dalam industri penyedap, farmasi dan wangi-wangian.

Minyak jahe banyak diekspor ke United State of America (USA), Singapura, Jerman, India  dan Afrika Selatan, dengan importir terbesar adalah United State of America (USA). Indonesia masih sebagai produsen jahe ketiga terbesar setelah China dan India di pasar global, padahal secara iklim dan kesesuaian lahan Indonesia sangat potensial.

7.  Kenanga (Cananga odorata)


kenanga

Kenanga atau Cananga odorata tanaman yang berasal dari Filipina. Di Pulau Jawa tanaman kenanga tumbuh liar. Tanaman kenanga tumbuh subur di dataran rendah dengan kelembaban tinggi, beriklim tropis dan dekat dengan pantai. Di Jawa, kenanga biasanya ditanam di pekarangan rumah, tidak dibudidayakan.

Bunga kenanga yang masih muda berwarna hijau, sedangkan bunga kenanga yang sudah tua berwarna kuning. Mutu minyak dan rendemen tertinggi terdapat pada bunga yang telah matang sempurna (warna kuning tua).

Minyak Kenanga diperoleh dengan cara penyulingan bunga kenanga. Di daerah biasanya dilakukan dengan cara rebus. Hasil sulingan bunga kenanga terdiri dari beberapa fraksi yang mempunyai komposisi dan mutu yang berbeda. Fraksi dengan mutu paling baik adalah yang mengandung kadar ester dan eter yang tinggi, sesquiterpen yang rendah. Minyak kenanga diekspor masih dalam keadaan crude. Oleh importir Amerika dan Eropa, minyak kenanga biasanya direktifikasi untuk menghasilkan minyak yang lebih jernih dan lebih mudah larut. Minyak yang dihasilkan akan menyusut sebanyak 25 persen.

Minyak kenanga hanya diproduksi di Indonesia dengan output sebesar 20 ton per tahun. Khusus di Pulau Jawa daerah penghasil minyak kenanga adalah Blitar dan Boyolali. Di dunia pemakaian minyak kenanga masih sangat terbatas dibandingkan minyak ylang-ylang, namun minyak kenanga masih tetap penting karena bau minyak ini lebih tahan lama dan lebih murah dibandingkan minyak ylang-ylang. Dalam industri, minyak kenanga biasa digunakan untuk bahan pewangi sabun.

8. Cendana (Santanum album L)


cendana

Cendana adalah tanaman kelas kayu dari pohon di genus Santalum. Minyak cendana diekstraksi dari hutan untuk digunakan. Cendana adalah kayu termahal kedua di dunia, setelah kayu hitam Afrika.

Minyak cendana (Santanum album L) di Indonesia banyak terdapat di Pulau Timor. Tanaman cendana berupa pohon kecil yang selalu hijau dengan batang lurus dan bulat tanpa alur. Tanaman cendana ini sangat cocok pada daerah yang berudara dingin dan kering serta intensitas cahaya matahari yang cukup. Bulan kering yang panjang sangat baik pengaruhnya terhadap pembentukan minyak dan aroma. Varietas cendana yang berdaun kecil, mempunyai kadar minyak yang lebih tinggi pada bagian kayu teras, namun kadar santanolnya lebih rendah.

Minyak cendana diperoleh dari hasil pengulingan jantung kayu cendana dengan waktu penyulingan cukup lama karena titik didih minyak ini cukup tinggi. Rendemennya sekitar 3-5 persen.

Komponen utama dalam minyak cendana adalah santanol. Dalam perdagangan internasional, kadar santanol tersebut harus lebih dari 90 persen, jika tidak maka pasar tidak akan menerimanya.

Perkiraan permintaan dunia lebih dari 50 ton per tahun. Indonesia pernah menduduki peringkat ke-2 setelah India (Myrose). minyak cendana ini memegang peranan penting dalam industri parfum. Selain dapat digunakan untuk minyak wangi sendiri, dapat pula untuk pengikat minyak wangi mahal (Violet, Cassie, Rose, Reseda, dan Ambete).,

9. Mesoyi (Cryptocarya massoia (Oken) Kosterm.)


mesoyi

Mesoyi (Cryptocarya massoia (Oken) Kosterm) tumbuh liar di hutan Indonesia bagian Timur, tingginya sekitar 40 meter. Tanaman mesoyi berbatang tegak, kulit berwarna kelabu muda dan bagian dalam kulit berwarna merah.

Minyak mesoyi dihasilkan dari proses penyulingan kulit kayu mesoyi, mempunyai bau wangi (sweetish oil) dan terasa pedas jika terkena kulit. Minyak mesoyi ini mengandung sekitar 80% eugenol, dan 6% terpene dan safrole. Minyak ini merupakan sumber natural laktone. Kandungan safrole dalam minyak masoi dibutuhkan dalam industri kimia, untuk pembuat heliotropin, bahan baku celluloide (film), kosmetik dan parfum.

10. Kayu putih  (Melaleuca leucadendra syn. M. leucadendron)

kayu putih

Gelam atau Kayu putih (Melaleuca leucadendra syn. M. leucadendron) merupakan tanaman anggota dari suku jambu-jambuan (Myrtaceae) yang dimanfaatkan sebagai sumber minyak kayu putih (cajuput oil). Minyak kayu putih diekstrak biasanya disuling dengan uap. terutama dari daun dan rantingnya. Nama kayu putih diambil dari warna batangnya yang memang berwarna putih.

Pohon kayu putih terdapat di daerah Asia Tenggara, yang tumbuh di dataran rendah atau rawa tetapi jarang ditemukan di daerah pegunungan. Pohon kayu putih yang tumbuh di rawa-rawa mempunyai komposisi kimia yang berbeda dengan yang terdapat pada dataran rendah. Tanaman yang tumbuh di rawa-rawa mempunyai kadar sineol yang rendah, bahkan ada yang tidak mengandung sineol, sehingga tidak mempunyai nilai ekonomi.

Di Indonesia sendiri tanaman kayu putih tumbuh di Maluku tepatnya di Pulau Buru, Seram, Nusalaut, Ambon dan Sumatera Selatan tepatnya di sepanjang Sungai Musi, Palembang, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya. Di daerah itu tanaman kayu putih tumbuh subur secara alami, sedangkan tanaman kayu putih yang diusahakan terdapat di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Minyak kayu putih diperoleh dengan cara menyuling daun tanaman kayu putih berwarna biru sampai hijau, sementara minyak kayu putih yang telah dimurnikan berwarna kuning sampai tidak berwarna dan berbau seperti kamfer.

Komponen utama yang terkandung dalam minyak kayu putih adalah sineol yang mencapai 65 persen. Dengan adanya komponen sienol tersebut, minyak kayu putih dapat langsung digunakan sebagai minyak wangi dan obat-obatan. Tetapi di negara lain, minyak kayu putih digunakan sebagai bahan baku untuk industri farmasi dan parfum. Tanaman lain yang juga mengandung sineol adalah eucalyptus, dengan kadar yang kebih besar yakni sekitar 85 persen.

Permintaan di dunia untuk minyak kayu putih diperkirakan lebih dari 100 ton per tahunnya, dengan pemakaian terbesar di Asia tengara, sedangkan di dunia, yang lebih banyak diguakan adalah minyak eucalyptus.

11. Jeruk purut (Citrus × hystrix DC)


jeruk purut

Citrus hystrix yang disebut jeruk purut, makrut kapur atau mauritius papeda adalah buah jeruk yang berasal dari Asia Tenggara tropis dan Cina selatan.

Tinggi pohon jeruk purut antara 2 sampai 12 meter. Batang pohon ini agak kecil, bengkok atau bersudut dan bercabang rendah. Batang yang sudah tua berbentuk bulat, berwarna hijau tua, dapat bertesktur polos atau berbintik-bintik. Daun jeruk purut ini berwarna hijau kekuningan dan berbau khas. Bentuknya bulat dengan ujung tumpul dan bertangkai. Tangkai daun bersayap lebar, sehingga hampir menyerupai daun.

Untuk mendapatkan minyak jeruk purut umumnya menggunakan cara penyulingan dengan metode kukus ataupun uap. Bahan yang digunakan adalah kulit buah atau daun jeruk purut tersebut.

Kandungan minyak atsiri didalam daun jeruk purut didominasi oleh minyak atsiri citronelal 80 persen, sisanya adalah citronelol 10 persen, nerol, dan limonena.

Minyak atsiri yang berasal dari kulit jeruk purut pada indutri banyak digunakan sebagai bahan pembuat antiseptik, parfum, kosmetik, dan lain-lain.

Minyak atsiri yang terkandung dalam daun jeruk purut pada perdagangan internasional disebut kaffir lime oil. Minyak atisiri ini banyak diproduksi di negara Indonesia dengan output beberapa ton per tahun. Pemakaian minyak jeruk purut sementara ini hanya untuk fragran, padahal potensi di flavor cukup besar, namun minyak atsiri ini belum memiliki nomor FEMA.

12. Adas (Foeniculum vulgare)


adas

Adas (Foeniculum vulgare) adalah spesies tanaman berbunga kuning dan daun berbulu yang berasal dari keluarga wortel. Tanaman adas ini berasal dari pantai Mediterania.

Minyak adas, disebut juga sebagai fennel oil, yang dihasilkan dari tanaman adas. Varietas yang menghasilkan minyak adas terdiri dari 2 sub spesies, yaitu Var. Vulgare (Miller) Thelling (liar dan pahit) dan Var. Dulce (Miller) Thelling (budidaya secara intensif dan manis).

Minyak adas secara komersil dihasilkan dengan cara penyulingan buah atau biji adas menggunakan sistem penyulingan uap. Rendemennya sekitar 1-6 persen. Penyulingan sebaiknya langsung dilakukan setelah biji dipanen. Selama proses penyulingan buah atau biji adas , harus diawasi agar suhu kondensor agak tinggi, untuk mencegah pembekuan minyak dalam tabung kondensor.

Komponen utama yang terdapat pada minyak adas seperti anthole, estragole dan fenchone. Keberadaan komponen utama tersebut tergantung pada jenis varietas tanaman adas yang digunakan.

13. Kayu manis (Cinnamomum verum)


kayu manis

Kayu manis adalah rempah-rempah yang diperoleh dari kulit bagian dalam beberapa spesies pohon dari genus Cinnamomum.

Aroma dan rasa kayu manis berasal dari minyak atsiri dan komponen utamanya, cinnamaldehyde, serta banyak konstituen lainnya, termasuk eugenol.

Minyak kayu manis yang diperoleh dari Cinnamomum zeylanicum Ness disebut sebagai minyak Cinnamon, sementara yang berasal dari Cinnamomum cassia disebut minyak Cassia. Minyak kayu manis dipergunakan sebagai flavouring agent dalam pembuatan kosmetika, parfum, dan sabun.

14. Melati (Jasminum sambac air)



Melati adalah genus dari tanaman semak dan tanaman merambat dalam keluarga zaitun (Oleaceae). Tanaman melati terdiri dari 200 spesies asli daerah beriklim tropis dan hangat di Eurasia, Australasia dan Oceania. Bunga melati banyak dibudidayakan untuk aroma khas bunga mereka.

Ada dua macam varietas tanaman melati yang diusahakan yaitu tanaman J. officinale L dan J. officinale vargrandiflorum L.

Perancis adalah negara yang paling banyak memproduksi bunga melati dan terutama diproduksi untuk parfum.

Bunga setelah dipetik tetap hidup secara fisiologis dan akan memproduksi minyak atsiri. Produksi minyak atsiri oleh bunga melati tersebut akan terhenti apabila bunga telah mati dan membusuk. Untuk mendapatkan minyak bunga melati, dilakukan dengan cara ekstraksi menggunakan sistem enfleurasi atau lemak dingin. Dengan cara ini, rendemen yang dihasilkan cukup tinggi dan tingkat kewangian yang tinggi, namun biaya produksinya cukup mahal, sehingga jarang dipergunakan.

Cara ekstraksi yang bisa digunakan adalah dengan mempergunakan pelarut menguap atau solvent extraction. Minyak melati yang baru diekstrak berwarna coklat kemerahan, dan mempunyai bau khas minyak melati. Absolute minyak melati bersifat lengket, jernih, berwarna kuning coklat dan mempunyai bau harum. Apabila mengadsorbsi udara, minyak melati berubah baunya, lebih kental, dan akhirnya membentuk resin.

Minyak bunga melati umumnya digunakan sebagai zat pewangi parfum. Minyak Melati biasanya diekspor ke Australia, China, Eropa,India, Singapura, Thailand, Timur Tengah.

Berikut ini adalah daftar tanaman atsiri penghasil minyak atsiri lainnya yang berkembang di Indonesia :


No
Tanaman dan Sumber Minyak Atsiri
Nama Latin Tanaman
1
Anis (Buah dan Biji)
Clausena anisata
2
Bangle (Akar)
Zingiber purpureum Roxb
3
Cempaka (Cempaka)
Michelia champaca
4
Eucalyptus (Daun)
Eucalyptus sp
5
Gaharu (Kayu)
Aquilaria sp
6
Gandapura (Daun dan Gagang)
Gaultheria sp
7
Jeringau
Acarus calamus
8
Kapulaga (Buah dan Biji)
Amomum cardamomum
9
Kemangi (Daun)
Basil Oil
10
Kemukus (Buah)
Piper cubela L
11
Kencur (Akar)
Caempreria galanga
12
Ketumbar (Buah dan Biji)
Coriandrum sativum
13
Klausena (Biji)
Clausena anisata
14
Kunyit (Akar)
Curcuma domestica
15
Lada (Buah dan Biji)
Piper nigrum L
16
Lawang
-
17
Lengkuas hutan (Akar)
Alpinia malacensis oil
18
Manis (Daun)
Cinnamomum casea
19
Mawar (Bunga)
Rosa sp
20
Mentha (Daun)
Mentha arvensis
21
Palmarosa (Daun)
Cymbopogon martini
22
Pinus (Getah)
Pinus merkusii
23
Rosemari
Rosmarinus officinale
24
Sedap malam (Bunga)
Polianthes tuberose
25
Sedap mekah (Bunga)
Ocimum gratissimum
26
Seledri (Daun dan Batang)
Avium graveolens L.
27
Sereh dapur (Daun)
Andropogon citratus
28
Sirih
Piper Bitle
29
Suwarung pohon (Daun)
Backhousia citriodora
30
Temulawak (Akar)
Curcuma xanthorizza
31
Ylang-ylang (Bunga)
Canangium odoratum

Belum ada Komentar untuk "45 Tanaman Penghasil Minyak Atsiri (Essential Oil)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel